Seni Menata Kecewa

14 01 2009

Siapa yang belum pernah kecewa..? Pastinya semua orang pernah mengalaminya bukan. Ada beberapa hal yang boleh jadi bisa digunakan tuk mengatasi terpaan rasa kecewa dalam kehidupan kita. Dalam hubungan bersama keluarga, di kantor, di masyarakat, dan dimanapun kita berada.

Dalam menyikapi rasa kecewa, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar ia tidak menjadi berlebihan, bersifat negatif, dan boleh jadi bisa jadi hal yang menguntungkan.

Pertama, gantungkan harapan hanya pada Allah.

Mengantungkan harapan hanya kepada Allah semata, dengan mengikhlaskan/meluruskan niat amalan hanya kepada Zat yang maha menepati harapan. Dan tempat dari point pertama ini berada di awal perbuatan, selama perbuatan, dan pada akhir segala perbuatan.

The higher your expectation is, the more pain you’ll get”, semakin besar rasa pengharapanmu, maka akan semakin besar pula rasa sakit yang akan kau dapat. Dan jika kita menggantungkan pengharapan kepada mahluk yang bernama manusia, maka bersiap-siaplah untuk mengalami rasa kecewa, sebab manusia adalah tempatnya khilaf/salah.

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (QS. Al Ikhlas: 2)

Kedua, syukuri apa yang ada.

Kita memang tidak pernah bisa mendapatkan setiap hal yang kita inginkan, namun kita akan selalu bisa mensyukuri setiap hal yang kita dapatkan. Dengan bersyukur, kita telah menjadi pribadi yang bermental positif, karena yakin bahwa Allah pasti memberi hal yang terbaik.

Bukankah Allah teramat sayang kepada hamba-hambaNya, dan bukankah ia pasti kan memberikan segala yang terbaik untuk hamba-hambaNya? Dan bukankah kita yakin bahwa Allah maha menepati janji?

Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisaa’: 29)

Dengan bersyukur, kita bisa melihat kebaikan dari segala sesuatu. Karena bisa jadi, hal yang menurut kita mengecewakan merupakan suatu hal yang terbaik untuk kita. Dan belum tentu, apa yang kita harapkan, merupakan hal yang baik bagi kita.

Ketiga, bersabar

Jika hal yang menimpa diri kita berupa musibah yang akhirnya akan menggoreskan kekecewaan dalam diri, maka sebagai seorang muslim, kita diwajibkan untuk bersabar.

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Sabar bukan berarti hal yang pasif saja, sabar juga bersifat proaktif. Karena sabar terdiri dari tiga hal, sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam mengerjakan kebaikan, dan sabar dalam menahan diri dari mengerjakan perbuatan maksiat.

Jangan pernah menangisi nasi yang telah menjadi bubur, namun berilah ia bumbu, kecap, kacang, dan kerupuk, agar bisa menjadi bubur yang lezat.

Dan sungguh, kesabaran hanya akan menambahkan pahala kebaikan pada diri kita.

”Seorang hamba yang ditimpa musibah, lalu mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, llahumma’jurni fi mushibati wa ahlif li khairan minha (sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita dikembalikan. Ya Allah, berilah aku ganjaran dalam musibahku ini dan berilah ganti kepadaku dengan yang lebih baik darinya), niscaya Allah akan memberi ganjaran padanya dalam musibahnya dan akan menggantikan dengan yang lebih baik darinya.” (HR Muslim).

Keempat, tawakal

Tawakal merupakan perpaduan yang indah antara kepasrahan diri dengan ikhtiar/usaha yang optimal.

Setelah kita ikhitiar dengan optimal, maka seharusnya kita bertawakal atas segala hasil yang kita kan dapatkan. Toh, manusia hanya dituntut tuk berusaha atau berproses dan tidak berorientasi pada hasilnya, sebab hasil di dunia itu sudah ditentukan dan hasil di akhiratlah, balasan yang terbaik itu didapat.

Dalam riwayat Imam Al-Qudha’i disebutkan bahwa Amr bin Umayah Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah!, Apakah aku ikat dahulu unta (tunggangan)-ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal? ‘Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaraan (unta)-mu lalu bertawakkallah”. (Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakkal, no. 633, 1/368)

Semoga dengan mempraktekan keempat hal tersebut, tiada lagi kata kecewa dalam hati kita, karena kita telah berharap hanya kepada Allah, berusaha dengan optimal, mensyukuri segala hasil usaha, dan bersabar atas apa yang menimpa. Insya Allah.


Aksi

Information

4 responses

23 01 2009
ichad

Assalamualaikuuumm….

waaahh…sudah jadi ya….

selamat untuk fosh seven…

semoga ukhuwah jihad takkan pernah henti…

hati kita sudah disatuan….

dana jangan cerai beraikan dengan kebodohan…

WE WILL NOT GO DOWN!!!

sepakat??

^_________________^

salam hangat…

kakak kalian

23 01 2009
ichad

mampiir lagi…..

celingak celinguk…

masih kosong….

pulang lagi….

8 03 2009
irul

Alhamdulillah, antum/antuna adalah satu diantara sekian banyak kader ishlah yang memiliki inisiatif membuat blog.

semoga tidak lama lagi, blog ini akan ramai tidak lagi kosong.., bukan cuma celingak celinguk seperti yg ichad bilang.

siapa ya pembuat blog ini? lumayan bagus tampilannya.

klo boleh saran, ada info tentang aktifitas Ishlahnya juga ya.

Dakwah tak kenal kata henti
iroel, Alumni-Psi-2002

16 06 2009
muj4hid

hohohoho

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: